Indikator:
1. Memilih model pembelajaran yang tepat berdasarkan tujuan
dan karakteristik materi ajar.
2.
Mengkreasikan model pembelajaran inovatif
disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik peserta didik.
A. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
1. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Kauchak dan Eggen (1993), belajar kooperatif merupakan
suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan untuk membantu siswa satu
dengan siswa yang lain dalam mempelajari sesuatu. Slavin (2000) dalam
pembelajaran kooperatif siswa bekerjasama dalam kelompok kecil, mereka saling
membantu untuk mempelajari suatu materi. Hal yang serupa diungkapkan oleh
Thompson dan Smith (Ratumanan, 2000), yaitu dalam pembelajaran kooperatif,
siswa bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari materi
akademik dan keterampilan antar pribadi. Anggota-anggota kelompok
bertanggungjawab atas ketuntasan tugas-tugas kelompok dan untuk mempelajari
materi itu sendiri.
Dalam
pembelajaran kooperatif kelas disusun atas kelompok-kelompok kecil. Setiap
kelompok biasanya terdiri dari 4 siswa dengan kemampuan berbeda-beda, yaitu
tinggi, sedang, dan rendah. Jika kondisi memungkinkan, dalam pembentukan
kelompok hendaknya diperhatikan juga perbedaan suku, budaya, dan jenis kelamin.
Siswa tetap berada dalam kelompoknya selama beberapa kali pertemuan. Aktivitas
siswa antara lain mengikuti penjelasan guru secara aktif, bekerjasama
menyelesaikan tugas-tugas dalam kelompok, memberikan penjelasan kepada teman
sekelompoknya, mendorong kelompok untuk berpartisipasi secara aktif,
berdiskusi, dan sebagainya. Agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif,
siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang
direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok
adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu teman
sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar. Dalam pembelajaran kooperatif
penghargaan diberikan kepada kelompok.
Pembelajaran
kooperatif memanfaatkan kecenderungan siswa untuk berinteraksi. Sejumlah
penelitian menunjukkan bahwa dalam setting kelas, siswa lebih banyak belajar
dari satu teman ke teman yang lain diantara sesama siswa daripada belajar dari
guru. Penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak
yang sangat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. Manfaat pembelajaran
kooperatif untuk siswa dengan hasil belajar rendah menurut Lundgren (1994)
antara lain: (a) dapat meningkatkan motivasi, (b) meningkatkan hasil belajar,
(c) meningkatan retensi atau penyimpanan materi pelajaran yang lebih lama.
Perbedaan kelompok pembelajaran
kooperatif dan kelompok tradisional oleh Lundgren (1994), sebagai berikut
seperti Tabel 11.1.
Tabel 11.1.
Perbandingan Kelompok Belajar Kooperatif dan Kelompok Belajar
Tradisional
Kelompok Belajar
Kooperatif
|
Kelompok Belajar
Tradisional
|
·
Kepemimpinan bersama
|
·
Satu pemimpin
|
·
Saling ketergantungan yang
positif
|
·
Tidak saling tergantung
|
·
Keanggotaan heterogen
|
·
Keanggotaan homogeny
|
·
Mempelajari
keterampilan-keterampilan kooperatif
|
·
Asumsi adanya keterampilan
social
|
·
Tanggung jawab terhadap
hasil belajar seluruh anggota kelompok
|
·
Tanggungjawab terhadap hasil
belajar sendiri
|
·
Menekankan pada tugas dan hubungan kooperatif
|
·
Hanya menekankan pada tugas
|
·
Ditunjang oleh guru
|
·
Diarahkan oleh guru
|
·
Satu hasil kelompok
|
·
Beberapa hasil individual
|
·
Evaluasi kelompok
|
·
Evaluasi individual
|
Menurut Slavin (2000), aktivitas pembelajaran
kooperatif dapat memainkan banyak peran dalam pelajaran. Dalam satu pelajaran tertentu,
pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk tiga tujuan berbeda. Sebagai
contoh, dalam suatu pelajaran tertentu para siswa bekerja berkelompok untuk
berupaya menemukan sesuatu, misalnya saling membantu mengungkapkan prinsip-prinsip
suara melalui pengamatan dan aktivitas menggunakan botol berisi air. Setelah
pelajaran selesai, siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi.
Akhirnya siswa mendapat kesempatan bekerjasama untuk memasukkan bahwa seluruh
anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu tentang pelajaran tersebut
sebagai persiapan untuk kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok. Di
dalam skenario yang lain, kelompok kooperatif dapat digunakan untuk memecahkan
suatu masalah kompleks.
Menurut Slavin (2000) beberapa
keuntungan dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
a.
Siswa bekerjasama dalam mencapai tujuan dengan
menjunjung tinggi norma-norma kelompok.
b.
Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk
sama-sama berhasil.
c.
Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih
meningkatkan keberhasilan kelompok.
d.
Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan
kemampuan mereka dalam berpendapat.
e.
Interaksi antar siswa juga membantu meningkatkan
perkembangan kognitif yang non konservatif menjadi konservatif (Teori Piaget).
Dalam pembelajaran kooperatif
diperlukan keterampilan-keterampilan khusus yang disebut dengan keterampilan
kooperatif. Keterampilan kooperatif tersebut berfungsi untuk melancarkan
peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan
mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas
dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok. Keterampilan-keterampilan kooperatif yang dimaksud
adalah:
a.
Keterampilan kooperatif tingkat awal, antara lain sebagai berikut.
1) Menggunakan kesepakatan, yaitu menyamakan pendapat
dalam kelompok
2)
Menghargai kontribusi (pendapat atau pekerjaan)
orang lain.
3) Mengambil giliran dan berbagi tugas
4) Tetap berada dalam kelompok kerja selama kegiatan
berlangsung
5) Tetap melaksanakan tugas yang menjadi tanggung
jawabnya
6) Mendorong berpartisipasi semua anggota kelompok
7) Mengundang orang lain untuk bicara
8) Menyelesaikan tugas tepat waktunya
9) Menghormati perbedaan individu
b.
Keterampilan kooperatif tingkat
menengah, antara lain sebagai berikut.
1)
Menunjukkan
penghargaan dan simpati
2)
Mengungkapkan
ketidaksetujuan terhadap ide/tugas orang lain atau kelompok lain dengan cara
wajar
3)
Mendengarkan
dengan aktif
4)
Bertanya
5)
Membuat ringkasan
6)
Menafsirkan
7)
Mengatur dan
mengorganisasi
8)
Menerima tanggungjawab
9)
Mengurangi
ketegangan
c.
Keterampilan
kooperatif tingkat mahir, antara lain sebagai berikut.
1)
Mengelaborasi, yaitu memperluas konsep, membuat
kesimpulan dan menghubungkan pendapat-pendapat dengan topik tertentu
2)
Memeriksa dengan cermat setiap ide/konsep yang
dibahas
3)
Berkompromi dalam menentukan pokok permasalahan atau
hal lain
4)
Menanyakan
kebenaran
5)
Menetapkan tujuan
dan prioritas-prioritas
6)
Mendorong
berpartisipasi setiap anggota kelompok
7)
Mengundang orang
lain untuk berbicara
Dalam pembelajaran kooperatif dikenal adanya
beberapa tipe antara lain: (a) Tipe Student
Team Achievement Division (STAD), (b) Tipe Teams
Games Tournaments (TGT), dan (c) Tipe Jigsaw.
a.
Tipe
Student Team Achievement Division (STAD)
STAD
merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif
yang paling sederhana, sehingga tipe ini dapat digunakan oleh guru-guru yang
baru mulai menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin
(2000), dalam STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat
orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku.
Tahap-tahap pembelajaran
kooperatif tipe STAD dapat dilihat sintaks pada
Tabel 11.2.
Tabel 11.2.
Sintaks Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD
Fase
|
Tingkah Laku Guru
|
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran (atau indikator hasil belajar), guru memotivasi siswa, guru
mengkaitkan pelajaran sekarang dengan yang terdahulu
|
Fase-2
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi
kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan.
|
Fase-3
Mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa
cara membentuk kelompok belajar, guru mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok–kelompok belajar (Setiap kelompok beranggotakan 4-5
orang dan harus heterogen terutama jenis kelamin dan kemampuan siswa).
|
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan
belajar
|
Guru
membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas
|
Fase-5
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari atau meminta siswa mempresentasikan
hasil kerjanya, kemudian dilanjutkan dengan diskusi
|
Fase-6
Memberikan penghargaan
|
Guru memberikan penghargaan
kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya dan hasil belajar siswa
baik secara individu maupun kelompok
|
Sumber:
Arends, R.I. (2001). Learning to Teach. New York: McGrawHill.
Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja
di dalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah
menguasai materi pelajaran tersebut. Akhirnya kepada seluruh siswa diberikan
tes tentang materi itu. Pada waktu tes ini mereka tidak dapat saling membantu.
Poin setiap anggota tim ini selanjutnya dijumlahkan untuk mendapat skor
kelompok. Tim yang mencapai kriteria tertentu diberikan sertifikat atau ganjaran
lain.
b.
Tipe
Teams Games Tournaments (TGT)
Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah suatu
pembelajaran dimana setelah kehadiran guru, siswa pindah kekelompoknya masing-masing
untuk saling membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari materi yang
diberikan. Sebagai ganti dari tes tertulis, setiap siswa akan bertemu seminggu
sekali pada meja turnamen dengan dua rekan dari kelompok lain. Tiga siswa dalam
setiap turnamen akan saling bersaing. Mereka menjawab satu pertanyaan yang
sama, yang telah dibahas bersama-sama daalam kelompoknya. Dengan cara ini
setiap siswa berkesempatan menyumbangkan skor sebanyak-banyaknya untuk
kelompoknya.
Tahap-tahap (skenario) yang perlu diperhatikan dalam
pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut :
1) Pembentukan kelompok
Kelas dibagi atas kelompok-kelompok kecil terdiri
dari 4-5 siswa. Perlu diperhatikan bahwa setiap kelompok mempunyai sifat
heterogen dalam hal jenis kelamin dan kemamppuan akdemik. Masing-masing
kelompok diberi kode, misalnya I, II, III, IV, dan seterusnya. Sebelum materi
pelajaran diberikan kepada siswa dijelaskan bahwa mereka akan bekerjasama dalam
kelompok selama beberapa minggu dan memainkan permainan akademik untuk menambah
poin bagi nilai kelompok mereka, dan bahwa kelompok yang nilainya tinggi akan
mendapat penghargaan.
2) Pemberian materi
Materi pelajaran mula-mula diberikan melalui
presentasi kelas, berupa pengajaran langsung atau diskusi bahan pelajaran yang
dilakukan guru, menggunakan audiovisual. Materi pengajaran dalam TGT dirancang
khusus untuk menunjang pelaksanaan turnamen. Materi ini dapat dibuat sendiri
dengan jalan mempersiapkan lembaran kerja siswa.
3) Belajar kelompok
Kepada masing-masing kelompok diberikan untuk
mengerjakan LKS yang telah disediakan. Fungsi utama kelompok ini adalah
memastikan semua anggota kelompok belajar, dan lebih khusus lagi untuk menyiapkan anggotanya agar dapat
mengerjakan soal-soal latihan yang akan dievaluasi melalui turnamen. Setelah guru memberikan materi
I, kelompok bertemu untuk mempelajari lembar kerja dan materi lainnya. Dalam
belajar kelompok, siswa diminta mendiskusikan masalah secara bersama-sama,
membandingkan jawabannya, dan mengoreksi miskonsepsi jika teman satu kelompok
membuat kesalahan.
4) Turnamen
Turnamen dapat dilaksanakan tiap bulan atau tiap
akhir pokok bahasan. Untuk melaksanakan turnamen, langkahnya adalah sebagai
berikut: (1) membentuk meja turnamen, disesuaikan dengan banyaknya siswa pada
setiap kelompok, (2) menentukan rangking (berdasarkan kemampuan) setiap siswa
pada masing-masing kelompok, (3) menempatkan siswa dengan rangking yang sama
pada meja yang sama. (4) masing-masing siswa pada meja turnamen bertanding untuk mendapatkan
skor sebanyak-banyaknya. (5) skor siswa daari maasing-masing kelompok
dikumpulkan, dan ditentukan kelompok yang mempunyai jumlah kumulatif tertinggi
sebagai pemenang pertandingan.
5) Skor individu
Skor individu adalah skor yang
diperoleh masing-masing anggota dalam tes akhir.
6) Skor kelompok
Skor kelompok
diperoleh dari rata-rata nilai perkembangan anggota kelompok. Nilai
perkembangan adalah nilai yang diperoleh oleh masing-masing siswa dengan
membandingkan skor pada tes awal dengan skor pada tes akhir. Perhitungan nilai
perkembangan sama dengan pada tipe STAD.
7) Penghargaan
Segera
setelah turnamen, hitunglah nilai kelompok dan siapkan sertifikat kelompok
untuk menghargai kelompok bernilai tinggi. Keberhasilan nilai kelompok dibagi
dalam 3 tingkat penghaargaan, sama seperti pada tipe STAD.
c. Tipe
Jigsaw
Kooperatif tipe Jigsaw ini dikembangkan oleh Elliot
Aronson’s. Kooperatif tipe jigsaw ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung
jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain.
Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus
siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya.
Dengan demikian siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus
bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Dalam penggunaan kooperatif tipe Jigsaw ini,
dibentuk kelompok-kelompok heterogen beranggotakan 4 sampai 6 siswa. Materi
pelajaran disajikan kepada siswa dalam bentuk tes dan setiap siswa bertanggung jawab atas penguasaan
bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian materi tersebut kepada
anggota kelompok lainnya (Arends, 2001).
Anggota pada kelompok yang berbeda dengan topik yang
sama bertemu untuk diskusi (antar ahli), saling membantu satu dengan lainnya
untuk mempelajari topik yang diberikan (ditugaskan) kepada mereka. Kemudiaan
siswa tersebut kembali kepada kelompok masing-masing (kelompok asal) untuk
menjelaskan kepada teman-teman satu kelompok tentang apa yang telah
dipelajarinya. Dengan demikian penggunaan tipe Jigsaw terdapat dua jenis
kelompok, yakni kelompok asal dan kelompok ahli. Kelihatannya dalam
pengorganisasian belajar seperti ini memiliki keterkaitan dengan “penggunaan
tutor sebaya”.
Tahap-tahap pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
dapat dilihat sintaks pada Tabel 11.3 berikut.
Tabel 11.3. Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Jigsaw
Fase
|
Tingkah
Laku Guru
|
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran (atau indikator hasil belajar), guru memotivasi siswa, guru mengkaitkan
pelajaran sekarang dengan yang terdahulu
|
Fase-2
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi
kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan.
|
Fase-3
Mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa
cara membentuk kelompok guru mengorgani-sasikan siswa ke dalam
kelompok–kelompok belajar (Setiap kelompok
ber-anggotakan 5-6 orang, heterogen, dan setiap anggota diberi tanggung jawab
untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan untuk menjadi ahli
pada masing-masing bagian tertentu).
|
Fase-4
Membimbing kelompok bekerja dan
belajar
|
Guru
membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas
|
Fase-5
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari atau meminta siswa mempresentasikan
hasil kerjanya, kemudian dilanjutkan dengan diskusi
|
Fase-6
Memberikan penghargaan
|
Guru memberikan penghargaan
kepada siswa yang berprestasi untuk menghargai upaya dan hasil belajar siswa
baik secara individu maupun kelompok
|
Sumber:
Arends, R. I. (2001). Learning
to Teach. New York: McGrawHill.
Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa
tanggung jawab siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang
positif (saling membantu) terhadap teman sekelompoknya. Pada akhir pembelajaran
diberikan tes kepada siswa secara individual. Materi yang diteskan meliputi
materi yang telah dibahas. Kunci pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah
interdependensi setiap siswa terhadap anggota kelompok yang memberikan
informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik.
Bahan Latihan
|
Pilihlah salah satu Standar Kompetensi (SK) pada standar isi Mata Pelajaran Fisika
SMA, kemudian buatlah Langkah-langkah Kegiatan Mengajar Belajar dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif!
2. Model
Pengajaran Langsung
Model direct instruction
merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari
keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi
selangkah. Pendekatan mengajar ini sering disebut Model Pengajaran Langsung (Kardi
dan Nur, 2000). Arends (2001) juga mengatakan hal yang sama, yaitu “A
teaching model that is aimed at helping students learn basic skills and
knowlegde that can be taught in a step-by-step fashion. For
our purposes here, the model is labeled the direct instruction model.”
Sedangkan Kardi (2001) mendefinisikan “Model Pembelajaran Langsung (MPL) adalah
suatu strategi pembelajaran yang digunakan untuk mengajarkan konsep dan
keterampilan.” Apabila guru menggunakan model pembelajaran langsung ini, guru mempunyai
tanggung jawab untuk mengidentifikasikan tujuan pembelajaran dan tanggung
jawab yang besar terhadap penstrukturan
isi/materi atau keterampilan, menjelaskannya kepada siswa, pemodelan/
mendemonstrasikan yang dikombinasikan dengan latihan, memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang telah
dipelajari serta memberikan umpan balik.
Model
pengajaran langsung ini dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa
yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang
terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang
bertahap, selangkah demi selangkah. Hal ini sesuai dengan pendapat Arends
(2001), yang menyatakan bahwa “The
direct instruction model was specifically designed to promote student learning
of procedural knowledge and declarative knowledge that is well structured and
can be taught in a step-by-step fashion.” Sedangkan Carin (1993)
berpendapat bahwa direct
instruction secara sistematis menuntun dan membantu siswa untuk melihat
hasil belajar dari masing-masing tahap demi tahap.
Direct instruction adalah
model pengajaran yang berpusat pada guru dan memiliki sintaks yang terdiri dari
lima fase, yaitu: mempersiapkan siswa, menjelaskan dan/atau mendemonstrasikan,
menuntun berlatih, memberikan umpan balik dan memperluas latihan. Berikut rangkuman kelima fase tersebut dapat dilihat pada
Tabel 11.4.
Tabel 11.4. Sintaks Model Pengajaran Langsung
Fase
|
Tingkah Laku Guru
|
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran (atau indikator hasil belajar),
guru menginformasikan latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran,
mempersiapkan siswa untuk belajar dengan cara mengkaitkan pelajaran sekarang
dengan yang terdahulu
|
Fase-2
Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
|
Guru mendemonstrasikan
keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap
|
Fase-3
Membimbing
pelatihan
|
Guru merencanakan dan
memberi bimbingan pelatihan awal
|
Fase-4
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
|
Mencek apakah siswa telah
berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik
|
Fase-5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan
penerapan
|
Guru mempersiapkan
kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus kepada
situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
|
Sumber: Arends, R.
I. (2001). Learning to Teach. New York: McGrawHill.
Direct instruction memerlukan
perencanaan dan pengaturan yang cermat di pihak guru, dan sistem pengelolaan
pembelajaran yang dilakukan guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa,
terutama melalui memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi atau tanya jawab,
dan siswa diorientasikan pada tugas.
Bahan Latihan
|
Pilihlah salah satu Standar Kompetensi (SK) pada standar isi Mata Pelajaran Fisika
SMA, kemudian buatlah Langkah-langkah Kegiatan Mengajar Belajar dengan menggunakan model pengajaran langsung!
3. Model Pembelajaran
Berdasarkan Masalah
Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction/PBI) merupakan pendekatan yang efektif
untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu
siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun
pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran
ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
Arends
(2001), pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pembelajaran dimana
siswa menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inquiry dan
keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan
percaya diri. Model pembelajaran ini mengacu pada model pembelajaran yang lain
seperti Pembelajaran berdasarkan proyek (Project-based
instruction), Pembelajaran berdasarkan pengalaman (Experience-based instruction), belajar otentik (Authentic learning), dan pembalajaran
bermakna (Anchored instruction).
Pembelajaran
ini, guru berperan untuk mengajukan permasalahan atau pertanyaan, memberikan
dorongan, motivasi, menyediakan bahan ajar dan fasilitas yang diperlukan.
Selain itu, guru memberikan scaffolding
berupa dukungan dalam upaya meningkatkan kemampuan inquiry dan perkembangan
intelektual siswa.
Arends (2001), mengemukakan 5
langkah utama dalam penggunaan PBI. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat pada
Tabel 11.5 berikut.
Tabel 11.5. Sintaks Model Pembelajaran Berdasarkan
Masalah
Fase
|
Tingkah Laku Guru
|
Fase-1
Orientasi Siswa kepada masalah
|
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran (atau indikator hasil belajar),
memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
|
Fase-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
|
Guru membantu siswa
mendefinisikan dan mengorgani-sasikan tugas belajar yang berhu-bungan dengan
masalah tersebut
|
Fase-3
Membimbing
penyelidikan individual maupun kelompok
|
Guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
|
Fase-4
Mengembangkan dan manyajikan hasil karya
|
Guru membantu siswa dalam
merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan
model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
|
Fase-5
Menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
|
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau
evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
|
Sumber: Arends, R.
I. (2001). Learning to Teach. New York: McGrawHill.
Menurut Krajcik, et.al, & Slavin, et.al (Arends,
2001), karakteristik dari pembelajaran berdasarkan masalah adalah: (a)
Pengajuan pertanyaan atau masalah; (b) Keterkaitan dengan disiplin ilmu lain (interdisciplinary focus); (c)
penyelidikan otentik (Authentic
investigation); (d) Menghasilkan hasil karya dan memamerkannya (production of artifacts and exhibits);
dan (e) Kolaborasi (collaboration). PBI
sebenarnya didesain bukan untuk membantu guru menyampaikan sejumlah informasi
(materi pelajaran) kepada siswa. Untuk menyampaikan informasi dapat digunakan
model pembelajaran langsung (direct
instruction) dan metode ceramah. Tujuan utama pengembangan PBI adalah
untuk membantu siswa mengembangkan proses berpikirnya; belajar secara dewasa
melalui pengalaman yang menjadikan siswa mandiri. Menurut Arends (2001), ada 3
tujuan utama dari PBI, yaitu: (a) Mengembangkan kemampuan berpikir siswa dan
kemampuan memecahkan masalah; (b) Mendewasakan siswa melalui peniruan; (c)
Membuat siswa lebih mandiri.
Bahan Latihan
|
Pilihlah salah satu Standar Kompetensi (SK) pada standar isi Mata Pelajaran Fisika
SMA, kemudian buatlah Langkah-langkah
Kegiatan Mengajar Belajar dengan menggunakan
model pembelajaran berdasarkan masalah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar